setelah sukses roadshow di 10 kota..kali ini film "DEBT" akan mengulang kesuksesannya di Dreamlight Jogjakarta, datang & saksikan film "DEBT" karya LOOKOUT PICTURE INDONESIA hari Sabtu 27 Maret 2010 mulai pukul 19.00 di Ketandan Kulon No. 4 .Belakang Ramayana Malioboro Jogjakarta..GRATIS!!!
Berikut salah satu berita tentang film DEBT di Kedaulatan Rakyat
PESAN TERSIRAT FILM DEBT ; Hikmah Memanusiakan Orang Lain
08/02/2010 08:31:40
SAAT memudahkan jalan orang lain. Maka, jalan kita, juga akan terasa lebih mudah. Selain itu, rasa saling memahami dan menghargai orang lain, tetap perlu dilakukan untuk mendapatkan ketenangan hidup. Meskipun begitu, rasa putus asa juga mampu menghancurkan mimpi dan kebahagiaan.
Itulah sekelumit makna, dari beberapa penggalan dialog dalam film indie Debt yang diputar di Ruang Seminar, Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (6/2). Film ini hasil produksi Lookout Picture Indonesia, besutan sutradara muda Khusnul Khitam.
Produser Pelaksana Endik Koeswoyo mengungkapkan, secara keseluruhan produksi film indie ini memakan waktu hampir 2 minggu. Syuting perdana pada 14 Januari lalu, dengan mengambil lokasi di Yogyakarta.
"Persoalan yang saya angkat, berkaitan dengan kecenderungan masyarakat saat ini yang mengumbar konsumerisme, tanpa menimbang kemampuan pendapatan ekonomi mereka. Masyarakat begitu mudah tergiur iming-iming iklan, sehingga mereka kemudian ingin mendapatkan semua produk itu dengan cara kredit. Ternyata keputusan itu bukan menjadi solusi atas masalah hidupnya. Namun justru menjadi sumber masalah baru," jelas Khusnul Khitam yang juga penulis skenario ini.
Film ini, lanjutnya, dilakukan berdasarkan riset selama beberapa bulan. Mampu menjadi sebuah pesan tentang mentalitas masyarakat yang cenderung menjadi korban zaman. Di tengah kian terbukanya pasar bebas, tentu kondisi masyarakat ini, nantinya, akan menjadi masalah besar.
"Bisa saja ketika pasar bebas dijalankan, masyarakat kita hanya akan menjadi objek bagi produk luar yang masuk ke Indonesia. Namun, dengan semua masalah tersebut, sebagai makhluk sosial, mampukah kita berbagi dengan orang lain?" ungkapnya.
Film indie Debt ini, tambah Khusnul, mengisahkan nasib seorang debtcollector bernama Sugeng. Uniknya dia juga terjerat pada masalah yang sama. Ada dilematis yang selalu dialami Sugeng sebagai tukang tagih. (*-3) -g
Sumber: http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=208617&actmenu=40
Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345
Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya
MANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER
Kamis, 25 Maret 2010
Kamis, 18 Maret 2010
-Workshop Penulisan '1 Hari Jadi Penulis'- GRATIS
Sebelum mengaplikasikan -Workshop Penulisan '1 Hari Jadi Penulis'-
Kami dari Jaringan Penulis Indonesia akan melakukan Uji Coba Materi : -Workshop Penulisan '1 Hari Jadi Penulis'-
Kesempatan terbatas. Bagi anda yang berdomisili di Yogyakarta silahkan mengikuti program Uji Materi -Workshop Penulisan '1 Hari Jadi Penulis'- dengan mendaftarkan melalui SMS ke 0817 323 345 Ketik: Daftar (Spasi) Nama (Spasi) Tahun Lahir
Progam ini Gratis, Tidak di pungut Biaya.
Peserta yang mendaftar akan mendapatkan Modul dan Upadate Alamat Penerbitan Terbaru.
Materi:
1. Motivasi Menulis
2. Tips Menulis
3. Tips dan Trik Menembus Penerbitan
Pemateri: Endik Koeswoyo
KARYA CETAK
1-Cowok Yang Terobsesi Melati (Penerbit: Diva Press Yogyakarta. www.divapress-online.com)
2- Cinta Selebar Kerudung (Penerbit: Sketsa Yogyakarta)
3-Siapa Memanfaatkan Letkol Untung? (Penerbit: Media Pressindo Yogyakarta)
4-Tersesat Di Surga (Penerbit: Sketsa Yogyakarta)
5- Pak Gempa (AruzzKata Jakarta)
6- Hijrahnya Cinta (Penerbit: Pustaka Fahima Yogyakarta. www.pustakafahima.com)
7. Kaldera: Ketika Cinta Bicara Cinta (Bisnis 2030 Jakarta. www.bookoopdia.com)
8. Doa Untuk Dinda (Penerbit: Garailmu. Diva Press Yogyakarta.www.divapress-online.com)
9 Kisah Raja-Raja Legendaris Nusantara (Penerbit: Garailmu. Diva Press Yogyakarta.www.divapress-online.com)
Tempat: Dapur Creative Lookout Picture Indonesia
Alamat: Jl. Swadaya 604 / MJ I. Gedong Kiwo Pojok Benteng Barat.
Waktu : Sabtu 20 Maret 2010: Pukul 9.00 WIB s/d 11. 00 WIB
Acara ini di Dukukung Oleh:
Lookout Picture Indonesia
Penerbit Kembang Pustaka
Izza Publisher
Jaringan Penulis Indonesia
Manfaatkan kesempatan langka ini. Gratis. Peserta mendapatkan Modul.
INFO TAMBAHAN:
Manfaatkan Blog Ada dengan mengikuti KUMPUL BLOGER> Daftar Gratis di http://kumpulblogger.com/textlink_desc.php?refid=6018
Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345
Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya
Manfaatkan Blog Anda Dengan Mengikuti : KUMPUL BLOGER http://Kumpulblogger.com/signup.php?refid=6018
Kami dari Jaringan Penulis Indonesia akan melakukan Uji Coba Materi : -Workshop Penulisan '1 Hari Jadi Penulis'-
Kesempatan terbatas. Bagi anda yang berdomisili di Yogyakarta silahkan mengikuti program Uji Materi -Workshop Penulisan '1 Hari Jadi Penulis'- dengan mendaftarkan melalui SMS ke 0817 323 345 Ketik: Daftar (Spasi) Nama (Spasi) Tahun Lahir
Progam ini Gratis, Tidak di pungut Biaya.
Peserta yang mendaftar akan mendapatkan Modul dan Upadate Alamat Penerbitan Terbaru.
Materi:
1. Motivasi Menulis
2. Tips Menulis
3. Tips dan Trik Menembus Penerbitan
Pemateri: Endik Koeswoyo
KARYA CETAK
1-Cowok Yang Terobsesi Melati (Penerbit: Diva Press Yogyakarta. www.divapress-online.com)
2- Cinta Selebar Kerudung (Penerbit: Sketsa Yogyakarta)
3-Siapa Memanfaatkan Letkol Untung? (Penerbit: Media Pressindo Yogyakarta)
4-Tersesat Di Surga (Penerbit: Sketsa Yogyakarta)
5- Pak Gempa (AruzzKata Jakarta)
6- Hijrahnya Cinta (Penerbit: Pustaka Fahima Yogyakarta. www.pustakafahima.com)
7. Kaldera: Ketika Cinta Bicara Cinta (Bisnis 2030 Jakarta. www.bookoopdia.com)
8. Doa Untuk Dinda (Penerbit: Garailmu. Diva Press Yogyakarta.www.divapress-online.com)
9 Kisah Raja-Raja Legendaris Nusantara (Penerbit: Garailmu. Diva Press Yogyakarta.www.divapress-online.com)
Tempat: Dapur Creative Lookout Picture Indonesia
Alamat: Jl. Swadaya 604 / MJ I. Gedong Kiwo Pojok Benteng Barat.
Waktu : Sabtu 20 Maret 2010: Pukul 9.00 WIB s/d 11. 00 WIB
Acara ini di Dukukung Oleh:
Lookout Picture Indonesia
Penerbit Kembang Pustaka
Izza Publisher
Jaringan Penulis Indonesia
Manfaatkan kesempatan langka ini. Gratis. Peserta mendapatkan Modul.
INFO TAMBAHAN:
Manfaatkan Blog Ada dengan mengikuti KUMPUL BLOGER> Daftar Gratis di http://kumpulblogger.com/textlink_desc.php?refid=6018
Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345
Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya
Manfaatkan Blog Anda Dengan Mengikuti : KUMPUL BLOGER http://Kumpulblogger.com/signup.php?refid=6018
Rabu, 10 Maret 2010
Sebuah Cerpen Berjudul Keris
Sebuah Cerpen Berjudul Keris
Malam semakin mejelang, para Gus itu mulai muncul dengan senyum masing-masing. Kalimat salam muncul lalu diikuti dengan jabat erat dilanjut dengan jabat tangan dan peluk erat. Tujuh remaja itu sepertinya telah lama tak bersua, rasa rindu membuncah untuk melepas dahaga perkasa yang mejelma dalam hati masing-masing pria muda itu. Jarak telah memisahkan persahabatan mereka.
Kisah-kisah lama teruri dalam bingkai malam yang menusuk dengan dinginnya. Mereka berjibaku dalam pengalaman lama yang belum terungkap satu sama lain. Mengalir dingin dengan cangkir-cangkir kopi yang panas mengepul dalam bisikan semilir angin.
“Hahahha… Kenapa? Putus cinta lagi? Haram bagimu mencitai yang bukan istrimu!”
“Loch.. ini jaman modern Gus! Sudah tidak jaman menikah dengan wanita yang belum kita kenal!” sahut Gus satunya dengan argumen sepihaknya.
“Ya Ampyun, kalian kok ngomongin agama lagi to? Sudah ganti topik, bosan aku dengan itu! Seiap hari sudah bosan aku di jekoki Kitab Kuning!” sahut Gus yang lain tiba-tiba protes.
“Lalu kita harus ngapain lagi kalau tidak membicarkan cinta? Kita masih muda!”
Diam, masing-masing seakan tertohok oleh sepatah kalimat itu. Aneh, remja-remaja itu seakan menjadi patung.
“Aku mau menikah!” ucap salah Gus yang sedari tadi hanya diam.
“Oh ya? Kapan?”
“Secepatnya! Terlalu lama aku sembunyi dari kenyataan!”
“Pake adat apa?” Tanya salah satunya lagi.
“Jawa, karena aku orang jawa!”
“Di mana kamu akan menikah?” Tanya yang lain pula.
“Jawa Tengah! Di sana aku memilih untuk menikah dan melanjutkan sisa usiaku!”
“Adat jawa? Pake keris ya?” Tanya seorang Gus yang paling ujung.
“Iya, aku suka keris sejak dulu, ingin aku menyandangnya di kala pernikahan nanti!” sahutnya pelan namun mampu memecah keheningan malam.
“Oh ya, mari kita ambilkan sebilah keris untuk pesta pernikahannya nanti!”
“Di mana?”
“Di Majapahit!” sahutnya mantab.
“Hahhahaha….” Lanjut yang lain tertawa.
***
Tujuh pemuda itu kini duduk bersila pada satu tempat diantah berantah. Dingin membeku, -mencekam sepi hening. Mulut mereka tampak komat-kamit.
“Bismillahirrahmannirrahim. Gedonge sukma pasebani sukma. Nur sukma mulya talirosoku tunggal. Nguling-nguling kapangeran” Mantra Ghaib itu terdengar hamper bersamaan dan berulang.
Angin malam masih mengalun membawa kerinduan. Semacam reuni akbar mereka menjadi satu dalam ketenangan dan doa. Angin berhembus semakin kencang, aroma mistis muncul dengan tiba-tiba.
Seorang Gus berdiri dengan cepat, tangannya merapat di depan dada
“Bismillaahirramaanirrahiim. Shalallaahualaihi wasallam. Allahumma kulhuaallah. Zat gumilang tanpa sangkan, liyep cut-prucut sukmaningsun metu saka raga gampang sarining gampang sak niatku, slamet saka kersane Allah. Laailallaillallah Muhammadarrasuulullah…"
Lalu angina berhembus semakin kencang. Dia terhuyung-huyung lalu memasang kuda-kuda untuk menaha diri. Gus yang lain masih komat-kamit, duduk bersila membaca doa, seakan memberi bantuan kekuatan pada sahabatnya. Cahaya kebiruan mucul dengan tiba-tiba. Direngkuhnya dengan cepat dan dia kembali bersila.
“Ini hadiah dari kami untuk kau gunakan dalam acara pernikahanmu, keris Nogo Sosro Sabuk Inten,” lanjutnya sambil menjulurkan tangannya yang sudah memegang sebuah keris usang Tangguh Majapahit.
Hening, semua kembali diam melanjutkan sebuah ritual yang entah apa namanya. Ada senyum yang mengembang dinatara mereka, ada persahabatan serat diantara mereka da nada banyak kenangan lama yang mereka ualng kembali setelah sekian lama tak bersua. Persahabatan mereka unik, tak terbatas waktu dan usia. Walau jika mereka berjumpa, secangkir kopi seakan menyatukan mereka.
(Foto Keris yang di ambil malam itu, Konon bernama Keris Nogososro Sabuk Inten karya besar Empu SUpo dari jaman Majapahit)

Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345
Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya
Manfaatkan Blog Anda Dengan Mengikuti : KUMPUL BLOGER
http://Kumpulblogger.com/signup.php?refid=6018
Malam semakin mejelang, para Gus itu mulai muncul dengan senyum masing-masing. Kalimat salam muncul lalu diikuti dengan jabat erat dilanjut dengan jabat tangan dan peluk erat. Tujuh remaja itu sepertinya telah lama tak bersua, rasa rindu membuncah untuk melepas dahaga perkasa yang mejelma dalam hati masing-masing pria muda itu. Jarak telah memisahkan persahabatan mereka.
Kisah-kisah lama teruri dalam bingkai malam yang menusuk dengan dinginnya. Mereka berjibaku dalam pengalaman lama yang belum terungkap satu sama lain. Mengalir dingin dengan cangkir-cangkir kopi yang panas mengepul dalam bisikan semilir angin.
“Hahahha… Kenapa? Putus cinta lagi? Haram bagimu mencitai yang bukan istrimu!”
“Loch.. ini jaman modern Gus! Sudah tidak jaman menikah dengan wanita yang belum kita kenal!” sahut Gus satunya dengan argumen sepihaknya.
“Ya Ampyun, kalian kok ngomongin agama lagi to? Sudah ganti topik, bosan aku dengan itu! Seiap hari sudah bosan aku di jekoki Kitab Kuning!” sahut Gus yang lain tiba-tiba protes.
“Lalu kita harus ngapain lagi kalau tidak membicarkan cinta? Kita masih muda!”
Diam, masing-masing seakan tertohok oleh sepatah kalimat itu. Aneh, remja-remaja itu seakan menjadi patung.
“Aku mau menikah!” ucap salah Gus yang sedari tadi hanya diam.
“Oh ya? Kapan?”
“Secepatnya! Terlalu lama aku sembunyi dari kenyataan!”
“Pake adat apa?” Tanya salah satunya lagi.
“Jawa, karena aku orang jawa!”
“Di mana kamu akan menikah?” Tanya yang lain pula.
“Jawa Tengah! Di sana aku memilih untuk menikah dan melanjutkan sisa usiaku!”
“Adat jawa? Pake keris ya?” Tanya seorang Gus yang paling ujung.
“Iya, aku suka keris sejak dulu, ingin aku menyandangnya di kala pernikahan nanti!” sahutnya pelan namun mampu memecah keheningan malam.
“Oh ya, mari kita ambilkan sebilah keris untuk pesta pernikahannya nanti!”
“Di mana?”
“Di Majapahit!” sahutnya mantab.
“Hahhahaha….” Lanjut yang lain tertawa.
***
Tujuh pemuda itu kini duduk bersila pada satu tempat diantah berantah. Dingin membeku, -mencekam sepi hening. Mulut mereka tampak komat-kamit.
“Bismillahirrahmannirrahim. Gedonge sukma pasebani sukma. Nur sukma mulya talirosoku tunggal. Nguling-nguling kapangeran” Mantra Ghaib itu terdengar hamper bersamaan dan berulang.
Angin malam masih mengalun membawa kerinduan. Semacam reuni akbar mereka menjadi satu dalam ketenangan dan doa. Angin berhembus semakin kencang, aroma mistis muncul dengan tiba-tiba.
Seorang Gus berdiri dengan cepat, tangannya merapat di depan dada
“Bismillaahirramaanirrahiim. Shalallaahualaihi wasallam. Allahumma kulhuaallah. Zat gumilang tanpa sangkan, liyep cut-prucut sukmaningsun metu saka raga gampang sarining gampang sak niatku, slamet saka kersane Allah. Laailallaillallah Muhammadarrasuulullah…"
Lalu angina berhembus semakin kencang. Dia terhuyung-huyung lalu memasang kuda-kuda untuk menaha diri. Gus yang lain masih komat-kamit, duduk bersila membaca doa, seakan memberi bantuan kekuatan pada sahabatnya. Cahaya kebiruan mucul dengan tiba-tiba. Direngkuhnya dengan cepat dan dia kembali bersila.
“Ini hadiah dari kami untuk kau gunakan dalam acara pernikahanmu, keris Nogo Sosro Sabuk Inten,” lanjutnya sambil menjulurkan tangannya yang sudah memegang sebuah keris usang Tangguh Majapahit.
Hening, semua kembali diam melanjutkan sebuah ritual yang entah apa namanya. Ada senyum yang mengembang dinatara mereka, ada persahabatan serat diantara mereka da nada banyak kenangan lama yang mereka ualng kembali setelah sekian lama tak bersua. Persahabatan mereka unik, tak terbatas waktu dan usia. Walau jika mereka berjumpa, secangkir kopi seakan menyatukan mereka.
(Foto Keris yang di ambil malam itu, Konon bernama Keris Nogososro Sabuk Inten karya besar Empu SUpo dari jaman Majapahit)
Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345
Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya
Manfaatkan Blog Anda Dengan Mengikuti : KUMPUL BLOGER
http://Kumpulblogger.com/signup.php?refid=6018
Selasa, 09 Maret 2010
Sebuah Cerpen Berjudul Anjing
Sebuah Cerpen Berjudul Anjing
Entah telah berapa lama aku tidak menulis cerpen…. Dan hari ini seseorang memintaku menulis cerpen untuk hadih ulang tahunnya… Selamat ulang tahun sobat…. Hanya sebait kalimat ini yang aku berikan untuk ulang tahunmu, dan semoga apa yang engkau cita-citakan tercapai dan hidup bahagia dengan kelurga tercintamu….
Ku awali dengan kalimat Bismillah….
Mendung itu tampak majemuk, ada warna biru, kekuningan jingga dan sedikit pekat. Mungkin sama dengan cinta, cinta juga majemuk seperti mendung terkadang ada hitam terkadang ada putih. Namun ada juga yang mengatakan cinta itu biasa saja, dan wajar-wajar saja. Sudahlah, ini bukan soal cinta, ini bukan soal mendung, ini hanya soal anak anjing.
“Haram katanya memakan daging Anjing, najis katanya jika terkena liur anjing. Lalu kenapa anjing itu ada ke muka bumi?”
“Mungkin sama dengan penciptaan nyamuk oleh Sang Tuhan. Nyamuk itu menjijikkan dan mengganggu tidur plus membawa banyak penyakit. Kenapa Sang Tuhan menciptakan nyamuk? Sederhana saja jawabnya, dari adanya nyamuk ribuan pekerja bisa menghidupi keluarganya dari pabrik-pabrik yang membuat obat nyamuk, dokter dan ratusan pekerja lainnya, memnghidupi keluarganya dengan menjadi musuh nyamuk,”
Aku diam, menatap jauh ke depan, kepada seekor anak Anjing yang masih menyusu pada induknya yang lelap. Anjing memang majemuk, terutama warnanya. Ada yang putih, pink, orange dan jenisnya juga majemuk, besar, kecil, dan jenisnya juga majemuk dari jenis anjing Shih Tzu, Rottweiler , Pug, Pomeranian hingga anjing hutan yang tidak jelas jenisnya apa. Tapi ini bukan soal warna, jenis atau apapun. Ini soal hala dan haramnya anjing dan sebuah pertanyaan kenapa Sang Tuhan mengharapkan ciptaan-Nya?
“Sebaliknya, seandainya tuhan bilang air liur anjing itu tidak najis, suci, baik buat kesehatan, menambah tenaga, penuh berkah, bisa menambah rejeki dan melariskan dagangan, atau bisa mengobati kadas, kudis, kurap dan seterusnya, apakah kita akan minum air liur anjing ?“
Sekali lagi aku tertohok oleh argument itu.
“Entahlah!”
Aku lebih memilih menikmati secangkir kopi dari pada membahas soal anjing. Aku lebih suka memandang langit yang majemuk dari pada membahasa anak anjing jadi maaf, aku tidak tertarik untuk membahasa soal anjing itu, karena aturannya sudah jelas. Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Bila anjing minum dari wadah air milikmu, harus dicuci tujuh kali.(HR Bukhari dan Muslim). Rasulullah SAW bersabda, "Sucinya wadah minummu yang telah diminum anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali dan salah satunya dengan tanah.(HR Muslim dan Ahmad).
Dan sudahlah, sebaiknya aku tidak membawa masalah anjing ini ke dalam mimpi, biarkan dia menjadi anjing dan aku menjadi manusia. Biarkan saja banyak nyamuk dan aku tetap manusia.
Sore semakin menjelang, warung di pinggir pantai itu sunyi. Hanya ada aku sendiri, yang telah di tinggal pergi oleh sobatku yang tadi. Mungkin dia kecewa karena aku tidak menanggapi komentarnya soal anjing. Tapi aku memang tidak suka dan aku punya tidak mau. Kubiarkan dia pergi dengan rasa dongkol dihatinya, kubiarkan dia pergi dengan kecewa di hatinya. Aku egosi kok. Semua orang tau itu.
Anak-anak anjing itu masih saja terus menyusu, mencari isi perut dari isi perut ibunya yang lelap dalam tidurnya, tidak terganggu. Walau aku melihatnya dari sebrang jalan, aku bisa melihatnya dengan jelas, mereka bahagia. Mereka hidup rukun dan mereka bahagia. Walau aku hanya melihatnya dari jauh, aku tau kalau mereka tidak sadar ada jutaan umat yang membenci mereka namun ada juga jutaan mansia yang mengukai anjing. Hidup memang tidak seperti nasib anjing, di sukai kadang juga di benci. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya.
Cieettt…..Bruak!
“Anjing! Apa kamu ndak punya mata?”
Hardik seorang pria yang terjatuh dari motornya.
“Astagfirullah!” aku segera berlari mendekati pria itu.
“Anda tidak apa-apa?” sapaku sembari membantunya berdiri lebih tegak.
“Tidak apa-apa!” sahutnya ketus.
Tempat yang sepi itu tiba-tiba menjadi gaduh dengan kemunculan banyak warga. Aku menatap sekelilingku, apa sebenarnya yang terjadi? Mataku terlalu focus pada anak-anak anjing yang tadi.
Pada sudut yang lain, sekerumuman warga tampak gelisah dan mulai gaduh. Aku mendekat, seorang anak kecil tampak terkulai pada pelukan seorang pria tua. Siapa dia? Apakah pria itu tadi menabrak anak kecil itu dengan motornya? Bisa jadi demikian.
“Tidak apa-apa, dia tidak apa-apa, hanya lecet saja.” Sahut pria itu menjawab pertanyaan bertubi dari warga yang entah datang dari mana.
“Maafkan cucu saya, dia tidak melihat jalan saat menyebrang,” ucap pria tua kepada pengendara motor yang berdiri tak jauh darinya.
Pria itu tak menjawab, dia berdiri dengan angkuhnya, layaknya manusia tanpa dosa yang begitu mudah mengup kata ‘anjing’. Sudahlah, anak itu juga tidak apa-apa, menangispun tidak karena dia hanya kaget lalu terjatuh di jalan aspal sore itu.
Kembali hening, lalu aku memutuskan untuk pulang saja. Tidak ada yang menarik sore ini, hanya anak-anak anjing yang menyusu pada ibunya, hanya seorang teman yang ingin sekali membahas soal anjing, dan hanya seorang pria yang mengumpat dengan kata ‘anjing’.
Hidup ini tidaklah kaku, hidup ini felsibek seperti air, di masukkan ke mana saja, di tempatkan ke mana saja toh bentuknya juga akan mengikuti wadahnya. Sang Tuhan selalu punya rencana untuk umat-Nya, seperti Dia telah menciptakan nyamuk dan anjing, dua binatang yang berbeda yang dianggap hina namun juga punya manfaat. Begitu juga dengan cinta, kata itu ada karena memang mempunyai makna, begitu juga dengan mendung, kemajemukan warnanya juga punya makna. Begitu juga dengan kita, manusia hadir dengan segala bentuk dan keunikannya juga punya makna….
Endik Koeswoyo
Yogyakarta, 9 Maret 2009
Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345
Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya
Manfaatkan Blog Anda Dengan Mengikuti : KUMPUL BLOGER
http://Kumpulblogger.com/signup.php?refid=6018
Entah telah berapa lama aku tidak menulis cerpen…. Dan hari ini seseorang memintaku menulis cerpen untuk hadih ulang tahunnya… Selamat ulang tahun sobat…. Hanya sebait kalimat ini yang aku berikan untuk ulang tahunmu, dan semoga apa yang engkau cita-citakan tercapai dan hidup bahagia dengan kelurga tercintamu….
Ku awali dengan kalimat Bismillah….
Mendung itu tampak majemuk, ada warna biru, kekuningan jingga dan sedikit pekat. Mungkin sama dengan cinta, cinta juga majemuk seperti mendung terkadang ada hitam terkadang ada putih. Namun ada juga yang mengatakan cinta itu biasa saja, dan wajar-wajar saja. Sudahlah, ini bukan soal cinta, ini bukan soal mendung, ini hanya soal anak anjing.
“Haram katanya memakan daging Anjing, najis katanya jika terkena liur anjing. Lalu kenapa anjing itu ada ke muka bumi?”
“Mungkin sama dengan penciptaan nyamuk oleh Sang Tuhan. Nyamuk itu menjijikkan dan mengganggu tidur plus membawa banyak penyakit. Kenapa Sang Tuhan menciptakan nyamuk? Sederhana saja jawabnya, dari adanya nyamuk ribuan pekerja bisa menghidupi keluarganya dari pabrik-pabrik yang membuat obat nyamuk, dokter dan ratusan pekerja lainnya, memnghidupi keluarganya dengan menjadi musuh nyamuk,”
Aku diam, menatap jauh ke depan, kepada seekor anak Anjing yang masih menyusu pada induknya yang lelap. Anjing memang majemuk, terutama warnanya. Ada yang putih, pink, orange dan jenisnya juga majemuk, besar, kecil, dan jenisnya juga majemuk dari jenis anjing Shih Tzu, Rottweiler , Pug, Pomeranian hingga anjing hutan yang tidak jelas jenisnya apa. Tapi ini bukan soal warna, jenis atau apapun. Ini soal hala dan haramnya anjing dan sebuah pertanyaan kenapa Sang Tuhan mengharapkan ciptaan-Nya?
“Sebaliknya, seandainya tuhan bilang air liur anjing itu tidak najis, suci, baik buat kesehatan, menambah tenaga, penuh berkah, bisa menambah rejeki dan melariskan dagangan, atau bisa mengobati kadas, kudis, kurap dan seterusnya, apakah kita akan minum air liur anjing ?“
Sekali lagi aku tertohok oleh argument itu.
“Entahlah!”
Aku lebih memilih menikmati secangkir kopi dari pada membahas soal anjing. Aku lebih suka memandang langit yang majemuk dari pada membahasa anak anjing jadi maaf, aku tidak tertarik untuk membahasa soal anjing itu, karena aturannya sudah jelas. Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Bila anjing minum dari wadah air milikmu, harus dicuci tujuh kali.(HR Bukhari dan Muslim). Rasulullah SAW bersabda, "Sucinya wadah minummu yang telah diminum anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali dan salah satunya dengan tanah.(HR Muslim dan Ahmad).
Dan sudahlah, sebaiknya aku tidak membawa masalah anjing ini ke dalam mimpi, biarkan dia menjadi anjing dan aku menjadi manusia. Biarkan saja banyak nyamuk dan aku tetap manusia.
Sore semakin menjelang, warung di pinggir pantai itu sunyi. Hanya ada aku sendiri, yang telah di tinggal pergi oleh sobatku yang tadi. Mungkin dia kecewa karena aku tidak menanggapi komentarnya soal anjing. Tapi aku memang tidak suka dan aku punya tidak mau. Kubiarkan dia pergi dengan rasa dongkol dihatinya, kubiarkan dia pergi dengan kecewa di hatinya. Aku egosi kok. Semua orang tau itu.
Anak-anak anjing itu masih saja terus menyusu, mencari isi perut dari isi perut ibunya yang lelap dalam tidurnya, tidak terganggu. Walau aku melihatnya dari sebrang jalan, aku bisa melihatnya dengan jelas, mereka bahagia. Mereka hidup rukun dan mereka bahagia. Walau aku hanya melihatnya dari jauh, aku tau kalau mereka tidak sadar ada jutaan umat yang membenci mereka namun ada juga jutaan mansia yang mengukai anjing. Hidup memang tidak seperti nasib anjing, di sukai kadang juga di benci. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya.
Cieettt…..Bruak!
“Anjing! Apa kamu ndak punya mata?”
Hardik seorang pria yang terjatuh dari motornya.
“Astagfirullah!” aku segera berlari mendekati pria itu.
“Anda tidak apa-apa?” sapaku sembari membantunya berdiri lebih tegak.
“Tidak apa-apa!” sahutnya ketus.
Tempat yang sepi itu tiba-tiba menjadi gaduh dengan kemunculan banyak warga. Aku menatap sekelilingku, apa sebenarnya yang terjadi? Mataku terlalu focus pada anak-anak anjing yang tadi.
Pada sudut yang lain, sekerumuman warga tampak gelisah dan mulai gaduh. Aku mendekat, seorang anak kecil tampak terkulai pada pelukan seorang pria tua. Siapa dia? Apakah pria itu tadi menabrak anak kecil itu dengan motornya? Bisa jadi demikian.
“Tidak apa-apa, dia tidak apa-apa, hanya lecet saja.” Sahut pria itu menjawab pertanyaan bertubi dari warga yang entah datang dari mana.
“Maafkan cucu saya, dia tidak melihat jalan saat menyebrang,” ucap pria tua kepada pengendara motor yang berdiri tak jauh darinya.
Pria itu tak menjawab, dia berdiri dengan angkuhnya, layaknya manusia tanpa dosa yang begitu mudah mengup kata ‘anjing’. Sudahlah, anak itu juga tidak apa-apa, menangispun tidak karena dia hanya kaget lalu terjatuh di jalan aspal sore itu.
Kembali hening, lalu aku memutuskan untuk pulang saja. Tidak ada yang menarik sore ini, hanya anak-anak anjing yang menyusu pada ibunya, hanya seorang teman yang ingin sekali membahas soal anjing, dan hanya seorang pria yang mengumpat dengan kata ‘anjing’.
Hidup ini tidaklah kaku, hidup ini felsibek seperti air, di masukkan ke mana saja, di tempatkan ke mana saja toh bentuknya juga akan mengikuti wadahnya. Sang Tuhan selalu punya rencana untuk umat-Nya, seperti Dia telah menciptakan nyamuk dan anjing, dua binatang yang berbeda yang dianggap hina namun juga punya manfaat. Begitu juga dengan cinta, kata itu ada karena memang mempunyai makna, begitu juga dengan mendung, kemajemukan warnanya juga punya makna. Begitu juga dengan kita, manusia hadir dengan segala bentuk dan keunikannya juga punya makna….
Endik Koeswoyo
Yogyakarta, 9 Maret 2009
Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345
Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya
Manfaatkan Blog Anda Dengan Mengikuti : KUMPUL BLOGER
http://Kumpulblogger.com/signup.php?refid=6018
Label:
Cerpen
Selasa, 02 Maret 2010
Jawa Pos Radar Yogya: Film Tukang Kredit yang Juga Pengkredit
Radar Yogya
[ Senin, 08 Februari 2010 ]
Film Tukang Kredit yang Juga Pengkredit
JOGJA - Lookout Picture Indonesia mempersembahkan film pendek yang berjudul Debt dengan mengangkat kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Untuk sosialisasi film ini, Debt akan diputar di beberapa tempat di Jogja.
"Pemutaran film Debt ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi dengan komunitas-komunitas pecinta film di kota-kota di mana film tersebut akan diputar," ujar Endik Koeswoyo, produser film Debt pada pemutaran perdananya di ruang seminar Taman Budaya Yogyakarta (TBY) Sabtu (6/2) lalu.
Endik melanjutkan, dengan adanya pemutaran film Debt ini, pihaknya ingin merangkul semua komunitas film, baik itu film indie dan production house lain.
"Dengan merangkul lebih banyak komunitas film, sehingga ke depannya bisa membuat film yang lebih kompleks. Sehingga tidak hanya masalah sosial saja," ungkap Endik.
Film Debt sendiri hanya berdurasi sekitar 20 menit. Mengisahkan tentang seorang debtkolektor, Sugeng, yang baru saja menikah. Pekerjaan hariannya adalah debtkolektor, ia harus menarik cicilan dari tiga orang yang menunggak bayar cicilan, yaitu, Pak Narko, Pak Darmo dan Bu Jamilah. Sedang, Sugeng sendiri memiliki hutang dengan sahabatnya, Boim, karena biaya untuk pernikahannya.
Demi membuat film ini, ia juga melakukan penelitian dengan mengkredit di sebuah perusahaan pengkreditan. Sehingga film produksinya ini bukan cuma karangan semata.
"Sebelum membuat film ini, saya melakukan penelitian dulu tentang debt collector. Saya sengaja membeli laptop dengan cara mengkredit, dan memang setiap bulan para debt collector ini rajin menagih," cerita Endik.
Ternyata, kata Endik, ia menemukan hal yang menarik dari para debtcollector ini. Debt collector bukan berarti orang yang selalu menarik utang dari para pengkredit, mereka juga memiliki masalah yang sama.
"Itu yang saya gambarkan pada tokoh Sugeng, sang debtcollektor. Sugeng sendiri juga punya utang dengan temannya," kata Endik.
Pemutaran film Debt akan berlangsung mulai dari tanggal 8 Februari 2010 hingga 25 Februari 2010. Tidak hanya di Jogja saja, tetapi akan diputar di kota-kota besar lain seperti Semarang, Surabaya dan Malang. (isa)
Sumber: http://jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=142115
Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345
Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya
Manfaatkan Blog Anda Dengan Mengikuti : KUMPUL BLOGER
[ Senin, 08 Februari 2010 ]
Film Tukang Kredit yang Juga Pengkredit
JOGJA - Lookout Picture Indonesia mempersembahkan film pendek yang berjudul Debt dengan mengangkat kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Untuk sosialisasi film ini, Debt akan diputar di beberapa tempat di Jogja.
"Pemutaran film Debt ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi dengan komunitas-komunitas pecinta film di kota-kota di mana film tersebut akan diputar," ujar Endik Koeswoyo, produser film Debt pada pemutaran perdananya di ruang seminar Taman Budaya Yogyakarta (TBY) Sabtu (6/2) lalu.
Endik melanjutkan, dengan adanya pemutaran film Debt ini, pihaknya ingin merangkul semua komunitas film, baik itu film indie dan production house lain.
"Dengan merangkul lebih banyak komunitas film, sehingga ke depannya bisa membuat film yang lebih kompleks. Sehingga tidak hanya masalah sosial saja," ungkap Endik.
Film Debt sendiri hanya berdurasi sekitar 20 menit. Mengisahkan tentang seorang debtkolektor, Sugeng, yang baru saja menikah. Pekerjaan hariannya adalah debtkolektor, ia harus menarik cicilan dari tiga orang yang menunggak bayar cicilan, yaitu, Pak Narko, Pak Darmo dan Bu Jamilah. Sedang, Sugeng sendiri memiliki hutang dengan sahabatnya, Boim, karena biaya untuk pernikahannya.
Demi membuat film ini, ia juga melakukan penelitian dengan mengkredit di sebuah perusahaan pengkreditan. Sehingga film produksinya ini bukan cuma karangan semata.
"Sebelum membuat film ini, saya melakukan penelitian dulu tentang debt collector. Saya sengaja membeli laptop dengan cara mengkredit, dan memang setiap bulan para debt collector ini rajin menagih," cerita Endik.
Ternyata, kata Endik, ia menemukan hal yang menarik dari para debtcollector ini. Debt collector bukan berarti orang yang selalu menarik utang dari para pengkredit, mereka juga memiliki masalah yang sama.
"Itu yang saya gambarkan pada tokoh Sugeng, sang debtcollektor. Sugeng sendiri juga punya utang dengan temannya," kata Endik.
Pemutaran film Debt akan berlangsung mulai dari tanggal 8 Februari 2010 hingga 25 Februari 2010. Tidak hanya di Jogja saja, tetapi akan diputar di kota-kota besar lain seperti Semarang, Surabaya dan Malang. (isa)
Sumber: http://jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=142115
Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345
Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya
Manfaatkan Blog Anda Dengan Mengikuti : KUMPUL BLOGER
Label:
AGENDA
Senin, 01 Maret 2010
Kedaulatan Rakyat: Debt Collector Bisa Terlilit Utang
Debt Collector Bisa Terlilit Utang
Senin, 08 Pebruari 2010 00:03:00

Cuplikan Film Debt (Foto:Fira Nurfiani)
YOGYA (KRjogja.com) - Debt collector atau penagih utang piutang menjadi sosok menakutkan bagi masyarakat saat ini. Tampang seram dan terkadang mengeluarkan sumpah serapah bagi orang yang terbelit utang menambah keangkeran profesi satu ini.
Namun, tidak dalam film pendek Debt yang dirilis Lookout Picture Indonesia. Betapa tidak, sang debt collector pun terkena masalah serupa. Rencananya, film berdurasi 20 menit akan diputar di beberada tempat di Yogya. Selain itu di Semarang, Surabaya dan Malang. Film ini bercerita tentang seorang debtkolektor, Sugeng, yang baru saja menikah. Pekerjaan hariannya menarik cicilan dari tiga orang yang menunggak bayar cicilan, yaitu, Pak Narko, Pak Darmo dan Bu Jamilah. Sedang, Sugeng sendiri memiliki hutang dengan sahabatnya, Boim, karena biaya untuk pernikahannya.
Produser film Debt, Endik Koeswoyopada mengatakan film ini berdasarkan penelitian dan pengalaman pribadi ketika membeli satu unit laptop di salah satu lembaga pembiayaan. “Sebelum membuat film ini, saya melakukan penelitian dulu tentang debt collector. Saya sengaja membeli laptop dengan cara mengkredit, dan memang setiap bulan para debt collector ini rajin menagih,” cerita Endik.
Ternyata, kata Endik, menemukan hal yang menarik dari para debtcollector ini. Debt collector bukan berarti orang yang selalu menarik utang dari para pengkredit, mereka juga memiliki masalah yang sama. “Itu yang saya gambarkan pada tokoh Sugeng, sang debtcollektor. Sugeng sendiri juga punya utang dengan temannya,” kata Endik.
Lebih lanjut Dia menjelaskan pemutaran film ini bermaksud merangkul semua komunitas film, baiK, indie ataupun production house lain “Dengan merangkul lebih banyak komunitas film dan bisa membuat film yang lebih kompleks yang tidak hanya bercerta tentang masalah sosial saja,” ungkapnya. (Fir)
Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345
Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya
Manfaatkan Blog Anda Dengan Mengikuti : KUMPUL BLOGER
Senin, 08 Pebruari 2010 00:03:00

Cuplikan Film Debt (Foto:Fira Nurfiani)
YOGYA (KRjogja.com) - Debt collector atau penagih utang piutang menjadi sosok menakutkan bagi masyarakat saat ini. Tampang seram dan terkadang mengeluarkan sumpah serapah bagi orang yang terbelit utang menambah keangkeran profesi satu ini.
Namun, tidak dalam film pendek Debt yang dirilis Lookout Picture Indonesia. Betapa tidak, sang debt collector pun terkena masalah serupa. Rencananya, film berdurasi 20 menit akan diputar di beberada tempat di Yogya. Selain itu di Semarang, Surabaya dan Malang. Film ini bercerita tentang seorang debtkolektor, Sugeng, yang baru saja menikah. Pekerjaan hariannya menarik cicilan dari tiga orang yang menunggak bayar cicilan, yaitu, Pak Narko, Pak Darmo dan Bu Jamilah. Sedang, Sugeng sendiri memiliki hutang dengan sahabatnya, Boim, karena biaya untuk pernikahannya.
Produser film Debt, Endik Koeswoyopada mengatakan film ini berdasarkan penelitian dan pengalaman pribadi ketika membeli satu unit laptop di salah satu lembaga pembiayaan. “Sebelum membuat film ini, saya melakukan penelitian dulu tentang debt collector. Saya sengaja membeli laptop dengan cara mengkredit, dan memang setiap bulan para debt collector ini rajin menagih,” cerita Endik.
Ternyata, kata Endik, menemukan hal yang menarik dari para debtcollector ini. Debt collector bukan berarti orang yang selalu menarik utang dari para pengkredit, mereka juga memiliki masalah yang sama. “Itu yang saya gambarkan pada tokoh Sugeng, sang debtcollektor. Sugeng sendiri juga punya utang dengan temannya,” kata Endik.
Lebih lanjut Dia menjelaskan pemutaran film ini bermaksud merangkul semua komunitas film, baiK, indie ataupun production house lain “Dengan merangkul lebih banyak komunitas film dan bisa membuat film yang lebih kompleks yang tidak hanya bercerta tentang masalah sosial saja,” ungkapnya. (Fir)
Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345
Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya
Manfaatkan Blog Anda Dengan Mengikuti : KUMPUL BLOGER
Kedaulatan Rakyat: PESAN TERSIRAT FILM DEBT ; Hikmah Memanusiakan Orang Lain
PESAN TERSIRAT FILM DEBT ; Hikmah Memanusiakan Orang Lain
08/02/2010 08:31:40
SAAT memudahkan jalan orang lain. Maka, jalan kita, juga akan terasa lebih mudah. Selain itu, rasa saling memahami dan menghargai orang lain, tetap perlu dilakukan untuk mendapatkan ketenangan hidup. Meskipun begitu, rasa putus asa juga mampu menghancurkan mimpi dan kebahagiaan.
Itulah sekelumit makna, dari beberapa penggalan dialog dalam film indie Debt yang diputar di Ruang Seminar, Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (6/2). Film ini hasil produksi Lookout Picture Indonesia, besutan sutradara muda Khusnul Khitam.
Produser Pelaksana Endik Koeswoyo mengungkapkan, secara keseluruhan produksi film indie ini memakan waktu hampir 2 minggu. Syuting perdana pada 14 Januari lalu, dengan mengambil lokasi di Yogyakarta.
"Persoalan yang saya angkat, berkaitan dengan kecenderungan masyarakat saat ini yang mengumbar konsumerisme, tanpa menimbang kemampuan pendapatan ekonomi mereka. Masyarakat begitu mudah tergiur iming-iming iklan, sehingga mereka kemudian ingin mendapatkan semua produk itu dengan cara kredit. Ternyata keputusan itu bukan menjadi solusi atas masalah hidupnya. Namun justru menjadi sumber masalah baru," jelas Khusnul Khitam yang juga penulis skenario ini.
Film ini, lanjutnya, dilakukan berdasarkan riset selama beberapa bulan. Mampu menjadi sebuah pesan tentang mentalitas masyarakat yang cenderung menjadi korban zaman. Di tengah kian terbukanya pasar bebas, tentu kondisi masyarakat ini, nantinya, akan menjadi masalah besar.
"Bisa saja ketika pasar bebas dijalankan, masyarakat kita hanya akan menjadi objek bagi produk luar yang masuk ke Indonesia. Namun, dengan semua masalah tersebut, sebagai makhluk sosial, mampukah kita berbagi dengan orang lain?" ungkapnya.
Film indie Debt ini, tambah Khusnul, mengisahkan nasib seorang debtcollector bernama Sugeng. Uniknya dia juga terjerat pada masalah yang sama. Ada dilematis yang selalu dialami Sugeng sebagai tukang tagih. (*-3) -g
Sumber: http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=208617&actmenu=40
Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345
Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya
Manfaatkan Blog Anda Dengan Mengikuti : KUMPUL BLOGER
08/02/2010 08:31:40
SAAT memudahkan jalan orang lain. Maka, jalan kita, juga akan terasa lebih mudah. Selain itu, rasa saling memahami dan menghargai orang lain, tetap perlu dilakukan untuk mendapatkan ketenangan hidup. Meskipun begitu, rasa putus asa juga mampu menghancurkan mimpi dan kebahagiaan.
Itulah sekelumit makna, dari beberapa penggalan dialog dalam film indie Debt yang diputar di Ruang Seminar, Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (6/2). Film ini hasil produksi Lookout Picture Indonesia, besutan sutradara muda Khusnul Khitam.
Produser Pelaksana Endik Koeswoyo mengungkapkan, secara keseluruhan produksi film indie ini memakan waktu hampir 2 minggu. Syuting perdana pada 14 Januari lalu, dengan mengambil lokasi di Yogyakarta.
"Persoalan yang saya angkat, berkaitan dengan kecenderungan masyarakat saat ini yang mengumbar konsumerisme, tanpa menimbang kemampuan pendapatan ekonomi mereka. Masyarakat begitu mudah tergiur iming-iming iklan, sehingga mereka kemudian ingin mendapatkan semua produk itu dengan cara kredit. Ternyata keputusan itu bukan menjadi solusi atas masalah hidupnya. Namun justru menjadi sumber masalah baru," jelas Khusnul Khitam yang juga penulis skenario ini.
Film ini, lanjutnya, dilakukan berdasarkan riset selama beberapa bulan. Mampu menjadi sebuah pesan tentang mentalitas masyarakat yang cenderung menjadi korban zaman. Di tengah kian terbukanya pasar bebas, tentu kondisi masyarakat ini, nantinya, akan menjadi masalah besar.
"Bisa saja ketika pasar bebas dijalankan, masyarakat kita hanya akan menjadi objek bagi produk luar yang masuk ke Indonesia. Namun, dengan semua masalah tersebut, sebagai makhluk sosial, mampukah kita berbagi dengan orang lain?" ungkapnya.
Film indie Debt ini, tambah Khusnul, mengisahkan nasib seorang debtcollector bernama Sugeng. Uniknya dia juga terjerat pada masalah yang sama. Ada dilematis yang selalu dialami Sugeng sebagai tukang tagih. (*-3) -g
Sumber: http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=208617&actmenu=40
Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345
Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya
Manfaatkan Blog Anda Dengan Mengikuti : KUMPUL BLOGER
Berita Film DEBT Koran Kedaulatan Rakyat
Malam Ini, Pemutaran Film ’Debt’
06/02/2010 08:09:40
KOMUNITAS film Lookout Picture Indonesia menggelar Road show pemutaran film indie berjudul ‘Debt’, di Miami Bistro Kafe, Sabtu (6/2), pukul 20.00 WIB. Film karya dan arahan sutradara muda Khusnul Khitam ini, secara keseluruhan mengambil lokasi di Yogyakarta. Produser Endik Koeswoyo mengungkapkan, film ini akan diputar di 9 kota, seperti Yogyakarta, Bandung, Cirebon, Semarang, Purwokerto, Malang, Surabaya, Solo, dan Pangkalpinang, selama bulan Februari-Maret 2010. Bercerita tentang persoalan yang kerap terjadi dalam masyarakat sekarang, yakni kecenderungan mereka yang mengumbar konsumerisme tanpa menimbang kemampuan pendapatan ekonomi. “Kami ingin agar film ini bisa mendapat apreasi dari seluruh elemen masyarakat. Mengingat, tema yang coba kami angkat memang syarat pesan moral. Selain itu, kami juga ingin berbagi pengalaman dengan teman-teman di berbagai daerah tentang pembuatan film ini,” ungkap Endik. Film ini, lanjutnya, melibatkan para pemain seperti, Wahyu Novianto, Indah KW, Broto Wijayanto, Naufal Zen Harist, Mootri Purnomo, Bagus Jeha, Dra Dyah Ruliyati, Yayuk Kesawamurti, Dewi Wulandari C, Riyanto Tan Ageraha, Amir Wiratama, Woy Iwan, Sriyono, dan Agung. (*-3)-c Sedangkan pelaku di balik layar seperti, Muhammad Sulaiman Wibowo (Executive Producer), Endik Koeswoyo (Producer), Khusnul Khitam (Sutradara/Penulis Naskah), Reno Agung, Dona Roy, dan Gerry Rahmano (Asisten Sutradara), Fajar MS (Cameraman), serta Dona Roy (Editor).
Sumber: http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=208458&actmenu=40
Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345
Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya
Manfaatkan Blog Anda Dengan Mengikuti : KUMPUL BLOGER
06/02/2010 08:09:40
KOMUNITAS film Lookout Picture Indonesia menggelar Road show pemutaran film indie berjudul ‘Debt’, di Miami Bistro Kafe, Sabtu (6/2), pukul 20.00 WIB. Film karya dan arahan sutradara muda Khusnul Khitam ini, secara keseluruhan mengambil lokasi di Yogyakarta. Produser Endik Koeswoyo mengungkapkan, film ini akan diputar di 9 kota, seperti Yogyakarta, Bandung, Cirebon, Semarang, Purwokerto, Malang, Surabaya, Solo, dan Pangkalpinang, selama bulan Februari-Maret 2010. Bercerita tentang persoalan yang kerap terjadi dalam masyarakat sekarang, yakni kecenderungan mereka yang mengumbar konsumerisme tanpa menimbang kemampuan pendapatan ekonomi. “Kami ingin agar film ini bisa mendapat apreasi dari seluruh elemen masyarakat. Mengingat, tema yang coba kami angkat memang syarat pesan moral. Selain itu, kami juga ingin berbagi pengalaman dengan teman-teman di berbagai daerah tentang pembuatan film ini,” ungkap Endik. Film ini, lanjutnya, melibatkan para pemain seperti, Wahyu Novianto, Indah KW, Broto Wijayanto, Naufal Zen Harist, Mootri Purnomo, Bagus Jeha, Dra Dyah Ruliyati, Yayuk Kesawamurti, Dewi Wulandari C, Riyanto Tan Ageraha, Amir Wiratama, Woy Iwan, Sriyono, dan Agung. (*-3)-c Sedangkan pelaku di balik layar seperti, Muhammad Sulaiman Wibowo (Executive Producer), Endik Koeswoyo (Producer), Khusnul Khitam (Sutradara/Penulis Naskah), Reno Agung, Dona Roy, dan Gerry Rahmano (Asisten Sutradara), Fajar MS (Cameraman), serta Dona Roy (Editor).
Sumber: http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=208458&actmenu=40
Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345
Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya
Manfaatkan Blog Anda Dengan Mengikuti : KUMPUL BLOGER
Seminar Kepenulisan Bersama Endik Koeswoyo
TERM OF REFERENCES
Nama Kegiatan : Seminar Kepenulisan
Tema Kegiatan : Lejitkan Potensi Menulismu
Materi : Kiat Sukses, Suatu Karya Menembus Berbagai Penerbit
Pembicara : Endik Koeswoyo
Waktu : Kamis, 4 Maret 2010. Pukul 10.00-11.00 WIB
Tempat : Ruang Sidang Utama, Lantai 3, Gedung Student Center UNY
Sasaran : Mahasiswa UNY, dan mahasiswa luar UNY, serta
masyarakat umum.
Target
Kuantitatif : 50 orang
Kualitatif :
1. Peserta mengetahui kriteria suatu karya, misal buku
atau novel yang dapat diterbitkan.
2. Peserta dapat memperoleh informasi bagaimana
prosedur dan tata cara mengirimkan suatu karya
ke penerbit.
3. Peserta mengetahui strategi yang jitu untuk meloloskan
karyanya ke berbagai penerbit.
Deskripsi Acara : Acara ini diisi oleh dua pemateri, dengan dipandu oleh satu moderator. Di akhir pemaparan materi diadakan sesi tanya jawab atau diskusi.
CP panitia yang bisa dihubungi (085725016307)
Fasilitas yang tersedia, LCD, Layar LCD, Sound System
SUSUNAN ACARA
SEMINAR KEPENULISAN
Waktu Acara
08.30-08.45 Registrasi peserta
08.45-09.00 Pembukaan dan Sambutan:
1. Riza Purnawan W. (Koordinator Perpustakaan Masjid Al Mujahidin UNY)
2. Apriansyah A. Md. (Ketua Divisi Kemasjidan Takmir Masjid Al Mujahidin UNY)
09.00-10.00 Materi I:
Bagaimana Mendapatkan Inspirasi dan Motivasi Menulis
Oleh : Kusmarwanti, M. Hum (Penulis dan Dosen FBS UNY)
10.00-11.00 Materi II:
Kiat Sukses Suatu Karya (buku atau novel) Menembus Berbagai Penerbit
Oleh : Endik Koeswoyo (Penulis)
11.00-11.45 Diskusi dan tanya jawab
11.45-12.00 Penutup
Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345
Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya
Manfaatkan Blog Anda Dengan Mengikuti : KUMPUL BLOGER
Nama Kegiatan : Seminar Kepenulisan
Tema Kegiatan : Lejitkan Potensi Menulismu
Materi : Kiat Sukses, Suatu Karya Menembus Berbagai Penerbit
Pembicara : Endik Koeswoyo
Waktu : Kamis, 4 Maret 2010. Pukul 10.00-11.00 WIB
Tempat : Ruang Sidang Utama, Lantai 3, Gedung Student Center UNY
Sasaran : Mahasiswa UNY, dan mahasiswa luar UNY, serta
masyarakat umum.
Target
Kuantitatif : 50 orang
Kualitatif :
1. Peserta mengetahui kriteria suatu karya, misal buku
atau novel yang dapat diterbitkan.
2. Peserta dapat memperoleh informasi bagaimana
prosedur dan tata cara mengirimkan suatu karya
ke penerbit.
3. Peserta mengetahui strategi yang jitu untuk meloloskan
karyanya ke berbagai penerbit.
Deskripsi Acara : Acara ini diisi oleh dua pemateri, dengan dipandu oleh satu moderator. Di akhir pemaparan materi diadakan sesi tanya jawab atau diskusi.
CP panitia yang bisa dihubungi (085725016307)
Fasilitas yang tersedia, LCD, Layar LCD, Sound System
SUSUNAN ACARA
SEMINAR KEPENULISAN
Waktu Acara
08.30-08.45 Registrasi peserta
08.45-09.00 Pembukaan dan Sambutan:
1. Riza Purnawan W. (Koordinator Perpustakaan Masjid Al Mujahidin UNY)
2. Apriansyah A. Md. (Ketua Divisi Kemasjidan Takmir Masjid Al Mujahidin UNY)
09.00-10.00 Materi I:
Bagaimana Mendapatkan Inspirasi dan Motivasi Menulis
Oleh : Kusmarwanti, M. Hum (Penulis dan Dosen FBS UNY)
10.00-11.00 Materi II:
Kiat Sukses Suatu Karya (buku atau novel) Menembus Berbagai Penerbit
Oleh : Endik Koeswoyo (Penulis)
11.00-11.45 Diskusi dan tanya jawab
11.45-12.00 Penutup
Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345
Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya
Manfaatkan Blog Anda Dengan Mengikuti : KUMPUL BLOGER
Langgan:
Entri (Atom)
