Senin, 22 Juni 2009

Segera Terbit....

Pada tanggal 01 Oktober 1965 sekitar pukul 01.30 Letkol. Untung dengan diikuti Sjam, Pono, Brigjen TNI Suparjo, dan Kolonel Inf. A Latief tiba di Lubang Buaya. Ia memberikan perintah pelaksanaan kepada semua komandan pasukan agar segera berangkat menuju ke sasaran masing-masing yang telah ditetapkan. Di dalam perintah pelaksanaan tersebut di tetapkan pula Pondok Gede sebagai daerah pemunduruan. Di tetapkannya daerah Pondok Gede sebagai daerah pemunduran itu karena wilayah daerah tersebut berada di wilayah tugas Mayor Udara Sujono[1], Komandan Resimen Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) dari pangkalan Udara Halim Perdanakusumah yang letaknya berdekatan dengan daerah basis latihan Lubang Buaya[2].




Letkol Untung Sutopo Bin Syamsuri

Ketika membicarakan sosok Letkol Untung, maka yang terlintas dalam benak kita adalah kekejaman yang dilakukannya. Ketika dia tampil dengan seragam Cakrabirawanya mengadakan rapat-rapat penting diantara kepulan asap rokok pekat[1]. Tetapi pertanyaan yang bertahun-tahun masih belum dinemukan jawabanannya adalah, benarkah Letkol Untung adalah seorang yang melakukan gerakan penculikan di bawah PKI?


Brigjen. Supardjo

Brigjen Supardjo berasal dari Divisi Siliwangi[1], yang kemudian dipertautkan dengan Mayjen Suharto pada satu garis komando. Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Panglima Komando Mandala Siaga (KOLAGA), bulan Agustus 1965 Mayjen Suharto disebut-sebut mengunjungi Kalimantan dan bertemu dengan Supardjo. Brigjen Suparjo tidak pernah ikut rapat-rapat persiapan, mungkin sekali ia hanya menerima informasi bahwa segala sesuatunya beres, sebagaimana tercantum dalam “dokumen Suparjo[2].” Salah satu kupasan mutakhir sejarah G30S ialah buku John Roosa tahun 2007 yang menganalisis apa yang disebut sebagai "dokumen Suparjo" yang juga dijuluki sebagai "jenderal merah."


Kolonel Abdul Latief

Kolonel Abdul Latief lahir di Surabaya pada tanggal 27 Juli 1926. Dia adalah seorang tentara yang merupakan salah seorang saksi peristiwa Gerakan 30 September pada tahun 1965. Karena dituduh makar dan terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September, Latief ditangkap di rumah saudara sepupu istrinya di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat pada 2 Oktober 1965 dan dijebloskan ke dalam penjara sejak 11 Oktober 1965. Ia dibebaskan pada 25 Maret 1999.




Dipa Nusantara Aidit

Dipa Nusantara Aidit, lebih dikenal dengan DN Aidit lahir tanggal 30 Juli 1923 – di bunuh pada tanggal 22 November 1965, dia adalah Ketua Central Comitte Partai Komunis Indonesia (CC-PKI). Ia dilahirkan dengan nama Achmad Aidit di Pulau Bangka, dan dipanggil "Amat" oleh orang-orang yang akrab dengannya. Di masa kecilnya, Aidit mendapatkan pendidikan Belanda. Ayahnya, Abdullah Aidit, ikut serta memimpin gerakan pemuda di Belitung dalam melawan kekuasaan kolonial Belanda, dan setelah merdeka sempat menjadi anggota DPR –Sementara- mewakili rakyat Belitung. Abdullah Aidit juga pernah mendirikan sebuah perkumpulan keagamaan, "Nurul Islam", yang berorientasi kepada Muhammadiyah.


Nyoto

Nyoto adalah Menteri Negara pada masa pemerintahan Sukarno. Nyoto juga merupakan wakil Ketua CC PKI dan sangat dekat dengan Aidit. Nyoto menikah dengan salah satu keluarga ningrat Mangkunegaran Solo yang bernama Sutarni. Wanita priyayi ini tidak memiliki kegiatan politik apa pun dikarenakan dia adalah sosok yang begitu mementingkan anak-anaknya sampai tragedi 1965 meletus. Nyoto adalah Menteri Negara dan Wakil Ketua CC PKI sampai dia dihabisi, istri dan 7 anaknya dijebloskan ke dalam tahanan di Kodim Jl Setiabudi, Jakarta.



Nyono

Nyono bisa dibilang adalah satu-satunya deretan petinggi PKI yang melalui sidang Mahmillub. Sidang Mahmillub pertama berlangsung pada tanggal 14 Februari 1966 bertempat di gedung Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), jalan Taman Surapati No.2 Jakarta, dengan menghadapkan terdakwa Nyono bin Sastrorejo alias Tugimin alias Rukma. Ia adalah anggota Polit Biro CC PKI merangkap Sekretaris I Komite Daerah Jakarta.


Mh. Lukman

Lukman kecil lahir pada tahun 1920 di Tegal Jawa Tengah. Dan dia di eksekusi pada tahun 1965 karena dianggap bertanggung jawab atas Gerakan 30 September. Ayah Lukman adalah seorang Kyai, yang konon aktif di Sarekat Rakyat. Pada tahun 1926 dia melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Kolonial Belanda, Haji Muchlas ayah Lukman dipenjarakan karena peristiwa pemberontakan itu. Pada tahun 1929 Haji Muchlas dan keluarganya, termasuk Lukman kecil bersama adiknya ikut dibuang ke camp tahanan Boven Digul, Papua Barat. Saat itu usia Lukman baru 9 tahun dan dia harus tumbuh dewasa antar tahanan politik. Di Boven Digul Haji Muclas bertememu dan bersahabat dengan Mohamat Hata. Persahabatan ayah Lukman dengan Bung Hatta itu cukup mendalam, sampai nama depan Lukman ditambah MH (Mohamad Hatta) Lukman. MH. Lukman sering dianggap anak angkat Bung Hatta.


Sudisman

Sudisman adalah anggota Politbiro Central Comitee PKI. Pasca meletusnya G 30 S, Sudisman yang juga merupakan tokoh teras Partai Komunis itu di tangkap dan dihukum mati. Sudisman, pejuang yang telah melewati pasang-surut revolusi Indonesia dengan berani itu dilahirkan di Jember, 1920. Sejak mudanya, ia telah berlaku berani menempuh hidup. Sudisman, begitu tamat HBS Surabaya tanpa ragu bersumpah di depan seorang gurunya bahwa ia tak akan menggunakan ijazah kolonial itu untuk mencari makan. Ia pun lantas terlibat dalam pengorganisiran buruh.


Ir. Sakirman

Ir. Sakirman dilahirkan di tahun 1911, di Wonosobo Jawa Tengah. Sakirman, tidak seperti kebanyakan pimpinan PKI yang berasal dari kalangan lebih rendah, Ir Sakirman merupakan lulusan ITB dan berasal dari keluarga Mangkunegara. Di tahun1965, tentu saja Ir. Sakirman termasuk generasi tua dengan banyak pengalaman perjuangan. Sesudah proklamasi kemerdekaan 1945, Pemuda Sakirman pun bergabung dengan AMRI[1], Slawi,Tegal. Ia pun terlibat dalam Peristiwa Tiga Daerah di karesidenan Pekalongan yang meliputi Pekalongan, Brebes dan Pembebasan Tegal. Namanya semakin dikenal luas ketika menjadi pemimpin eksekutif Lasjkar Rakjat Jawa Tengah sekitar 1945 juga.

Dan tokoh-tokoh lainnya...............


Tahukah kita siapa saja yang di anggap sebai tokoh-tokoh kunci dalam peristiwa tersebut? Dengan segala kekurangan dan kelebihan, selama 4 tahun ini -termasuk penelitian dan pencarian data tersebut- trbit Sudah "SIAPA MEMANFAATKAN LETKOL UNTUNG?" Terbitan Media Pressindo 2007. Alhamdulilah tahun ini, akan segera menyusul sebuah buku dengan Judul 'LENYAPNYA SAKSI-SAKSI KUNCI ?' Tunggu kahadirannya untuk kita kaji bersama. Dalam buku ini tokoh-tokoh yang dianggap sebagai Saksi Kunci itu di ulas dengan pengemasan bahasa yang menyenangkan. Salam Hormat, Endik Koeswoyo...

[1]AMRI Angkatan Muda Republik Indonesia


[1] Kodam III/Siliwangi merupakan Komando Kewilayahan Pertahanan yang meliputi provinsi Jawa Barat dan provinsi Banten. Motto Kodam Siliwangi adalah Esa Hilang, Dua Terbilang.

[2] Dokumen Suparjo adalah sebuah tulisan yang diyakini oleh para pakar sebagai tulisan atau suatu dokumen yang ditulis oleh Brigjen Suparjo




[1] Bisa dilihat dalam film G30S/PKI- yang dibuat semasa pemerintahan Orde Baru Soeharto




[1] Dalam bukunya Gerakan 30 September 1965: Kesaksian Letkol Penerbang Heru Admojo yang terbit tahun 2004, dia menolak terlibat dalam Gerakan pimpinan Letkol Untung.

[2] Buku Putih halaman 93, terbitan SEKRETARIAT NEGARA REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 1994. Lubang Buaya adalah sebuah tempat di kawasan Pondok Gede, Jakarta yang menjadi tempat pembuangan para korban Gerakan 30 September pada 30 September 1965. Saat ini secara spesifik, sumur Lubang Buaya terletak di Kelurahan Lubang Buaya di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.

3 komentar:

Terimakasih Sudah Bersedia Membaca, tuliskan komentar anda dan saya akan berkunjung ke blog anda...

Share It